1. Rasio
Keuangan Profitabilitas
Rasio
profitabilitas menunjukan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan (laba).
Dengan
menggunakan rasio ini Anda dapat mengetahui kelangsungan hidup perusahaan
(going concern). Terdapat lima ukuran yang dapat digunakan untuk mengukur rasio
profitabilitas.
a. Gross Profit Margin
Menunjukan
kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba kotor yang dapat dicapai dari
setiap penjualan. Gross profit margin merupakan perbandingan laba kotor dan
penjualan pada periode yang sama. Semakin besar hasil perhitungan menandakan
semakin baik kondisi keuangan perusahaan. Berikut cara menghitungnya:
(Laba kotor
perusahaan/ Pendapatan perusahaan) x 100%
b.Operating Profit Margin
Profit
margin menggambarkan laba bersih sebelum bunga dan pajak yang didapat dari
penjualan perusahaan. Rasio ini dapat dilihat pada laporan laba rugi pada
bagian analisis common size. Rasio ini juga diinterpretasikan
sebagai ukuran efisiensi bagaimana perusahaan menekan biaya-biaya pada suatu
periode. Cara menghitungnya adalah dengan rumus berikut:
(Laba
operasi/Penjualan bersih)
c. Net Profit Margin
Rasio ini
mengukur jumlah rupiah laba bersih yang dihasilkan oleh setiap satu penjualan
rupiah. Semakin tinggi rasio artinya semakin baik, karena menunjukan kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba.
d. Return On Assets (ROA)
ROA
menunjukan kemampuan perusahaan menghasilkan after tax operating profit dari
total aset yang dimiliki perusahaan. Laba yang dihitung adalah laba sebelum
bunga dan pajak atau EBIT (Earning Before Interest and Tax).
e. Return On Investment (ROI)
ROI
menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan yang akan
digunakan untuk menutup investasi yang dikeluarkan. Laba yang digunakan untuk
menghitung rasio ini adalah laba setelah pajak / Earning After tax (EAT).
Semakin besar hasilnya maka semakin baik.
2. Rasio
Keuangan Likuiditas
Rasio
likuiditas menunjukan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban finansial jangka
pendek.
Seperti
membayar gaji, utang yang jatuh tempo, biaya operasional, dan lainnya.
Rasio yang sering digunakan untuk menghitung ini yaitu:
a. Current Ratio
Rasio ini
menunjukan perbandingan aset lancar dengan kewajiban lancar. Semakin tinggi
maka artinya semakin baik likuiditasnya. Rumus current ratio adalah
Current
ratio = Current assets/Current liabilities
b. Quick Ratio
Quick ratio menunjukkan perbandingan
antara (kas + sekuritas jangka pendek + piutang) dengan kewajiban lancar.
Dengan kata lain merupakan jumlah perimbangan antara aktiva lancar dikurangi
persediaan dengan hutang lancar. Quick ratio juga biasa
disebut dengan acid test ratio. Persediaan tidak dimasukan dalam
perhitungan rasio ini karena persediaan merupakan aktiva lancar yang memiliki
tingkat likuiditas yang kecil. Semakin tinggi hasilnya, semakin baik
likuiditasnya.
3. Rasio
Keuangan Solvabilitas
Rasio solvabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi semua
kewajibannya baik jangka panjang maupun jangka pendek jika perusahaan
dilikuidasi.
Jadi
perusahaan yang solvable belum tentu tidak likuid (ilikuid), dan perusahaan
yang tidak solvable juga belum tentu ilikuid. Perusahaan yang
tidak mempunyai aktiva yang cukup untuk membayar utang biasanya disebut dengan
perusahaan yang unsolvable. Terdapat 2 rasio yang digunakan untuk
menghitungnya.
a. Total Debt to Total Assets Ratio
Rasio ini
dikenal dengan debt ratio yaitu mengukur besarnya dana yang berasal dari utang.
Rasio ini menunjukkan sejauh mana utang dapat ditutupi oleh aktiva perusahaan.
Semakin kecil rasionya makan semakin aman (solvable). Kreditor akan lebih
menyukai debt ratio yang rendah.
b. Debt to Equity Ratio
Rasio ini
digunakan untuk mengukur utang yang dimiliki dengan modal sendiri. Sebaiknya
utang perusahaan tidak melebihi modal perusahaan sendiri. Hal ini agar beban
tetap yang dikeluarkan perusahaan tidak tinggi. Semakin kecil utang terhadap
modal maka semakin baik dan aman.
4. Rasio
Keuangan Aktivitas
Mengukur
tingkat penggunaan aktiva atau kekayaan perusahaan kepada Anda.
Caranya
adalah dengan melihat beberapa aset, kemudian Anda menentukan berapa tingkat
aktivitas pada aktiva-aktiva pada kegiatan tertentu. Setelah itu, Anda akan
mengetahui aktiva mana yang produktif dan aktiva mana yang kurang produktif.
Sehingga selanjutnya Anda dapat memutuskan alokasi dana yang lebih besar untuk
aktiva yang produktif. Berikut ini contoh dari rasio aktivitas:
a. Rasio
Keuangan Perputaran Piutang
Rasio ini
mengukur efektivitas pengelolaan piutang. Semakin tinggi perputarannya maka
semakin efektif pengelolaannya. Dengan rasio ini Anda dapat melihat pengelolaan
piutang dan kebijakan kreditnya. Rumusnya adalah:
Perputaran
piutang usaha= Penjualan bersih / Piutang usaha rata-rata
b.
Rasio Perputaran Persediaan
Rasio ini
menunjukan likuiditas perusahaan dalam pengelolaan persediaanya. Semakin tinggi
perputarannya maka semakin baik. Hal tersebut artinya perusahaan menjual dan
mengelola persediaan dengan cepat dan baik. Jika rendah berarti efektivitas
pengendalian persediaan kurang baik. Cara menghitungnya adalah:
Rasio
perputaran persediaan = Penjualan / Rata-rata persediaan
c. Rasio
Keuangan Perputaran Aktiva Tetap
Rasio ini
mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan dengan aktiva
tetap yang dimilikinya. Semakin besar perputaran rasionya, maka semakin baik
untuk perusahaan. Rasio ini cukup penting bagi industri yang memiliki aktiva
tetap yang tinggi. Sedangkan untuk industri dengan aktiva yang kecil seperti
perusahaan jasa, menjadi tidak terlalu penting. Untuk menghitungnya dapat
menggunakan rumus berikut:
Rasio
perputaran aset tetap = Penjualan bersih / Aset tetap
d. Rasio
Perputaran Total Aktiva
Rasio ini
hampir sama dengan rasio perputaran aktiva tetap, yang membedakannya adalah
pembagi yang digunakan, yaitu total aktiva. Rasio ini digunakan untuk
menghitung efektivitas penggunaan total aktiva. Semakin tinggi perputarannya
maka semakin efektif perusahaan dalam memanfaatkan total aktiva untuk
penjualannya. Rumusnya adalah
Rasio
perputaran total aset = Penjualan / Rata-rata total aset